emas vs bitcoin

Bitcoin Naik Saat Perang Iran Memanas, Apakah Era Emas Sebagai Safe Haven Mulai Berakhir?

Jakarta, CNBC Indonesia – Pergerakan pasar aset kripto menunjukkan fenomena menarik di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Iran.

Berbeda dengan pola tradisional di mana investor biasanya beralih ke emas sebagai aset safe haven, pekan ini justru terjadi dinamika yang berbeda. Harga emas global mengalami tekanan penurunan, sementara Bitcoin (BTC) mampu mencatatkan kinerja positif.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar di pasar keuangan global: apakah Bitcoin mulai menggantikan emas sebagai aset perlindungan nilai di masa krisis?


Bitcoin dan Ethereum Menguat di Tengah Ketegangan Geopolitik

Berdasarkan data perdagangan terbaru, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$68.261,90. Walaupun dalam 24 jam terakhir mengalami koreksi kecil sekitar -0,52%, secara mingguan BTC masih mencatatkan penguatan sekitar +3,03%.

Kenaikan ini menunjukkan bahwa tekanan jual yang sempat muncul di pasar kripto mulai terserap oleh permintaan baru, khususnya dari investor di kawasan yang terdampak konflik.

Kondisi serupa juga terjadi pada Ethereum (ETH). Aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua ini diperdagangkan di level US$1.976,90. Dalam 24 jam terakhir ETH terkoreksi -1,77%, namun secara mingguan masih mencatat kenaikan sekitar +2,17%, menjaga posisinya tetap dekat dengan level psikologis US$2.000.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa sentimen investor terhadap aset kripto masih cukup kuat, bahkan di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.


Altcoin Ikut Menguat: Solana dan BNB Memimpin

Di sektor altcoin, pergerakan pasar terlihat lebih bervariasi. Namun beberapa aset kripto dengan kapitalisasi besar mampu mencatatkan performa solid.

Solana (SOL) menjadi salah satu yang mencuri perhatian dengan kenaikan mingguan sekitar +5,67% ke level US$86,98.

Sementara itu, BNB juga menunjukkan performa kuat dengan kenaikan +5,66% hingga mencapai US$632,50.

Kinerja altcoin ini menandakan bahwa minat investor terhadap pasar kripto tidak hanya terpusat pada Bitcoin, tetapi juga mulai menyebar ke berbagai aset digital lain.


Pergeseran Safe Haven: Dari Emas ke Bitcoin?

Salah satu faktor yang paling disorot analis pekan ini adalah korelasi antara konflik geopolitik dan pergerakan aset lindung nilai (safe haven).

Secara historis, meningkatnya konflik militer di Timur Tengah biasanya memicu lonjakan harga emas. Investor global cenderung mengalihkan dana mereka ke emas sebagai aset yang dianggap paling aman.

Namun situasi kali ini menunjukkan dinamika yang berbeda.

Merujuk data Refinitiv, harga emas global justru mengalami penurunan tajam hingga US$5.086,47 per troy ons, atau melemah sekitar 4,5% pada perdagangan Selasa (3/3/2026).

Penurunan tersebut sekaligus memutus reli emas selama lima hari sebelumnya dan membawa harga logam mulia itu ke level terendah sejak 19 Februari 2026.

Sebagian analis menilai kondisi ini dipengaruhi oleh fenomena “sell on news”, di mana investor mengambil keuntungan setelah ekspektasi terhadap peristiwa geopolitik benar-benar terjadi.

Di saat yang sama, kenaikan harga Bitcoin memunculkan indikasi bahwa sebagian likuiditas global—terutama dari kawasan Timur Tengah—mulai mengalir ke pasar kripto.


Bitcoin Mulai Dilihat Sebagai Safe Haven Digital

Dalam kondisi krisis ekonomi atau konflik geopolitik, Bitcoin menawarkan beberapa keunggulan unik dibandingkan aset tradisional, antara lain:

  • Bersifat desentralisasi dan tidak dikontrol bank sentral
  • Lintas negara dan tidak terikat yurisdiksi tertentu
  • Memiliki likuiditas global tinggi
  • Dapat diakses kapan saja melalui jaringan digital

Karakteristik tersebut membuat Bitcoin mulai dipandang sebagai safe haven digital, terutama bagi masyarakat di negara yang mengalami ketidakstabilan ekonomi atau sistem perbankan.

Sejarah menunjukkan bahwa ketika mata uang domestik suatu negara melemah atau kehilangan nilai, minat terhadap Bitcoin biasanya meningkat secara signifikan.


Outlook Harga Bitcoin: Potensi Uji US$72.000

Dalam jangka pendek, arus pembelian dari kawasan Timur Tengah diperkirakan masih dapat memberikan dorongan tambahan bagi harga Bitcoin.

Beberapa analis memproyeksikan BTC berpotensi menguji level resistensi di sekitar US$72.000.

Namun kenaikan ini juga dipandang sebagai relief rally, yaitu pantulan sementara akibat sentimen geopolitik.

Secara makro dan berdasarkan pola siklus empat tahunan Bitcoin, pasar kripto masih berada dalam fase konsolidasi menuju titik dasar siklus berikutnya.

Beberapa proyeksi memperkirakan bahwa cycle bottom Bitcoin berpotensi terjadi di kisaran US$40.000 hingga US$45.000, yang kemungkinan muncul pada Kuartal III atau Kuartal IV 2026.


Strategi Investor: Tetap Fokus pada Manajemen Risiko

Dengan kondisi pasar yang masih sangat dinamis, investor disarankan untuk tetap menerapkan manajemen risiko yang disiplin.

Kenaikan harga Bitcoin saat ini dapat bersifat sementara dan sangat bergantung pada arah arus likuiditas global (money flow) yang terus berubah secara real-time.

Bagi investor jangka panjang, menjaga likuiditas dan preserve capital tetap menjadi strategi utama sambil menunggu peluang akumulasi yang lebih optimal.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *